Minggu, 09 November 2008

Jalan Kerinci-Bangko Terancam Putus


Jambi Butuh Rp1,5 Triliun Perbaiki Jalan

Kerinci, AP—Jalan Kerinci-Bangko menjelang Desa Muara Emat kondisinya saat ini semakin parah dan badan jalan terancam putus dan amblas. Pantauan AKSI POST ada tiga titik jalan tersebut yang terancam amblas dan putus, sementara sampai saat ini belum ada tindakan dari pemerintah provinsi Jambi dan Pemkab Kerinci untuk memperbaikinya.
Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Jambi H. Nasroel Yasir saat melintasi jalur tersebut sempat kaget dan prihatin, kenapa jalan provinsi dibiarkan rusak dan ini akan mengacam arus transportasi darat Kerinci-bangko dan Jambi.

Provinsi Jambi idealnya setiap tahun anggaran membutuhkan dana senilai Rp1,5 triliun untuk memperbaiki dan pemeliharaan semua jalan yang ada di daerah itu baik jalan nasional maupun jalan provinsi.

Namun sampai sejauh ini kebutuhan untuk itu baru terpenuhi rata-rata senilai Rp600 miliar atau sekitar 40 persen per tahun anggaran, kata Kasubdin Tata Ruang dan Prasarana Wilayah Dinas Kimpaswil Provinsi Jambi, Benhard Panjaitan di Jambi, Sabtu.

Anggaran Rp600 miliar per tahun itu terpaksa dialokasikan untuk perbaikan dan pemeliharaan dengan skala prioritas. Artinya memprioritaskan jalan utama atau jalan produksi yang mengalami kerusakan parah untuk kelancaran arus barang dan jasa.

Ia menjelaskan, kerusakan jalan di Jambi selain disebabkan kelebihan tonase angkutan barang rata-rata di atas 20 ton, sementara daya dukung kekuatan jalan paling tinggi delapan ton.

Faktor lain juga lantara usia jalan rata-rata di atas lima tahun yang dinilai melebihi usia rencana jalan. Misalnya Jalan lintas timur (Jalintim) Sumatera di wilayah Jambi dibangun pada 1991 sehingga harus diperbaiki dan dipelihara secara berkelanjutan.

Demikian juga jalan Muara Tembesi-Saroalngun sepanjang 110 km yang kini sebagian rusak, karena kelebihan tonase dan tingginya intensitas angkutan barang.

Semua jalan di Jambi harus diperbaiki dan dipelihara yang membutuhkan dana cukup besar. Jika tidak diperbaiki atau dipelihara tingkat kerusakan kian tinggi, karena kerusakannya cepat terjadi sehingga ketika dibangun kembali mengeluarkan biaya cukup tinggi.

"Untuk menghindari kerusakan jalan tinggal milih, apakah mengubah desain jalan, mengubah desain kendaraan atau melarang kendaraan lewat. Itu tergantung kesepakatan dan anggaran yang ada," ujarnya.

Di sisi lain pengawasan terhadap jalan juga lemah, sehingga itu juga menjadi salah satu penyebab kerusakan jalan di Jambi, karenanya perlu kembali mengaktifkan jembatan timbang.

"Tetapi jembatan timbang itu harus benar-benar diaktifkan sebagai bentuk pengawasan yang riil di lapangan," katanya.

Berdasarkan catatan Kimpraswil Provinsi Jambi tingkat kerusakan jalan nasional di Jambi sepanjang 822 km hanya berkisar lima persen.
Sedangkan kerusakan jalan provinsi sekitar 30 persen dari keseluruhan jalan sepanjang 1.566 km

Tidak ada komentar: