Punya Duit, BBM Sulit Dicari
Kualatungkal, AP—Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sangat dirasakan para nelayan di kawasan pantai timur. Hingga saat ini, sebagian para nelayan harus tambat perahu. Keluhan lain juga menimpa para pengusaha trawl, karena dalam waktu belakangan akifitas melaut terhenti lantaran minimnya pasokan BBM.
“Sekarang makin aneh. Uang ada, stok BBM tidak ada. Kita bingung, kemana mencari BBM agar kita bisa menjalankan aktifitas melaut,” ujar salah seorang pengusaha ikan asal Kualatungkal, H Redwar kepada koran ini kemarin.
Kondisi demikian, ia minta perhatian serius dari pemerintah daerah, provinsi dan pemerintah pusat untuk mengatasi persoalan keterbatasan BBM. Paling tidak katanya, minimnya pasokan BBM jenis solar untuk para nelayan dan pengusaha ikan bisa dipenuhi. Saat ini kata H Redwar, di stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) di Parit 5 yang disalurkan oleh Pertamina tidak cukup untuk para nelayan di daerah itu. Bahkan, terkadang harus mencari di tempat lain.
Itupun sangat susah untuk mendapatkannya.“Di SPBN tersebut sekali masuk minyak dari pertamina Jambi sebanyak 10.000 liter. Dalam waktu satu hari langsung habis. Pasokan berikutnya tidak bisa ditentukan. Sehingga dengan keterbatasan pasokan BBM tersebut berimbas kepada para nelayan dan para pengusaha ikan di daerah ini,” jelasnya.
Minimnya pasokan BBM, mengakibatkan para pengusaha ikan di daerah itu sampai waktu 10 hari tidak bisa bergerak. Bahkan ikan yang sudah dikemas didalam fiber untuk dibawa ke berbagai daerah kualitasnya menurun dan membusuk.
“Persoalannya itu tadi, karena kita sangat sulit mendapatkan BBM. Kita punya duit, tapi BBM-nya yang tidak ada. Kecuali minyak ada duit tidak ada, ini lain ceritanya,” ujarnya lagi.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) cabang Tanjab Barat, Indra Gunawan. Ia minta pemerintah memperhatikan persoalan pasokan BBM solar bagi para nelayan.
Minyak solar untuk motor kapal nelayan akhir-akhir ini katanya terputus. Gara-gara itu nelayan tidak bisa melaut. Kalaupun dipaksakan melaut, nelayan maupun pengusaha perikanan terpaksa menunggu pasokan BBM di stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) Parit 5.“Kondisi seperti ini sangat merugikan nelayan maupun pengusaha perikanan,” ungkap Indra Gunawan.
Saat ini katanya, efek dari macetnya pasokan solar bagi nelayan, banyak pengusaha perikanan yang gulung tikar. Sebagian membiarkan kapalnya tenggelam begitu saja di Pelabuhan.
Persoalan ini sebenarnya sudah dibicarakan pihaknya ke berbagai pihak, termasuk pertamina. Namun hingga kini belum juga ada solusi bagi kelancaran pasokan BBM solar untuk nelayan tersebut.
“Makanya, kita minta perhatian serius dari Pemda maupun Pertamina Jambi terhadap keluhan para nelayan ini,” ujarnya (mad)
Kualatungkal, AP—Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sangat dirasakan para nelayan di kawasan pantai timur. Hingga saat ini, sebagian para nelayan harus tambat perahu. Keluhan lain juga menimpa para pengusaha trawl, karena dalam waktu belakangan akifitas melaut terhenti lantaran minimnya pasokan BBM.
“Sekarang makin aneh. Uang ada, stok BBM tidak ada. Kita bingung, kemana mencari BBM agar kita bisa menjalankan aktifitas melaut,” ujar salah seorang pengusaha ikan asal Kualatungkal, H Redwar kepada koran ini kemarin.
Kondisi demikian, ia minta perhatian serius dari pemerintah daerah, provinsi dan pemerintah pusat untuk mengatasi persoalan keterbatasan BBM. Paling tidak katanya, minimnya pasokan BBM jenis solar untuk para nelayan dan pengusaha ikan bisa dipenuhi. Saat ini kata H Redwar, di stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) di Parit 5 yang disalurkan oleh Pertamina tidak cukup untuk para nelayan di daerah itu. Bahkan, terkadang harus mencari di tempat lain.
Itupun sangat susah untuk mendapatkannya.“Di SPBN tersebut sekali masuk minyak dari pertamina Jambi sebanyak 10.000 liter. Dalam waktu satu hari langsung habis. Pasokan berikutnya tidak bisa ditentukan. Sehingga dengan keterbatasan pasokan BBM tersebut berimbas kepada para nelayan dan para pengusaha ikan di daerah ini,” jelasnya.
Minimnya pasokan BBM, mengakibatkan para pengusaha ikan di daerah itu sampai waktu 10 hari tidak bisa bergerak. Bahkan ikan yang sudah dikemas didalam fiber untuk dibawa ke berbagai daerah kualitasnya menurun dan membusuk.
“Persoalannya itu tadi, karena kita sangat sulit mendapatkan BBM. Kita punya duit, tapi BBM-nya yang tidak ada. Kecuali minyak ada duit tidak ada, ini lain ceritanya,” ujarnya lagi.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) cabang Tanjab Barat, Indra Gunawan. Ia minta pemerintah memperhatikan persoalan pasokan BBM solar bagi para nelayan.
Minyak solar untuk motor kapal nelayan akhir-akhir ini katanya terputus. Gara-gara itu nelayan tidak bisa melaut. Kalaupun dipaksakan melaut, nelayan maupun pengusaha perikanan terpaksa menunggu pasokan BBM di stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) Parit 5.“Kondisi seperti ini sangat merugikan nelayan maupun pengusaha perikanan,” ungkap Indra Gunawan.
Saat ini katanya, efek dari macetnya pasokan solar bagi nelayan, banyak pengusaha perikanan yang gulung tikar. Sebagian membiarkan kapalnya tenggelam begitu saja di Pelabuhan.
Persoalan ini sebenarnya sudah dibicarakan pihaknya ke berbagai pihak, termasuk pertamina. Namun hingga kini belum juga ada solusi bagi kelancaran pasokan BBM solar untuk nelayan tersebut.
“Makanya, kita minta perhatian serius dari Pemda maupun Pertamina Jambi terhadap keluhan para nelayan ini,” ujarnya (mad)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar