Jambi, AP - Kemampuan daya serap air Sungai Batanghari Provinsi Jambi mulai hulu hingga hilir kian berkurang, sementara upaya perbaikan kerusakan sungai terpanjang di Sumatera itu (lebih kurang 4.000 km) hingga kini belum terlihat.
"Kemampuan daya serap air sungai itu kian berkurang cukup jelas, misalnya sebentar saja turun hujan di hulu permukaan air cepat meluap, dan kemarau airnya menyusut drastis," kata Deputi Komunitas Konservasi Indonesia-Warung Informasi Konservasi (KKI-Warsi) Jambi, Mahendra Taher di Jambi, Jumat lalu.
Ia menjelaskan, jika ditinjau dari berbagai sisi ekologis sebenarnya sungai itu memiliki peran sangat penting.
Sungai Batanghari yang berhulu di Sumatera Barat, dan Jambi (hulu tengah dan hilir) berperan penting karena meliputi berbagai type ekosistem alami (selain ekosistem sungainya sendiri) mulai dari ekosistem pesisir dan muara, lahan basah, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan dataran tinggi, hutan hujan pegunungan dengan vegetasi sub alpin dan alpin.
Dibidang transportasi, pemanfaatan Sungai Batanghari menjadi prasarana transportasi masyarakat yang telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebelum akhir 70-an (sebelum trans Lintas Sumatera di buka), transpotasi air merupakan pilihan utama. Namun saat ini kapasitas angkutan yang dapat melewati sungai terbatas dan saat ini rata-rata hanya di bawah 3.000 DWT karena dasar sungai semakin dangkal.
Mengacu dari itu sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat karena sekitar 2,8 juta jiwa hidup sekitar sungai. Sungai Batanghari mampu mengairi 10.388 hektar sawah irigasi teknis, 12.800 hektar sawah irigasi setengah teknis, 11.758 hektar sawah irigasi sederhana, dan 26.108 hektar sawah irigasi swadaya.
Total produksi padi sawah pada tahun 2003 mencapai 649.173 ton Gabah Kering Giling (GKG).
Kerusakan Sungai Batanghari itu akibat hutan gundul yang menyebabkan erosi ke sungai tersebut.(ant)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar