Pasca Pilkada Politisasi Jabatan Sulit Dihindari
Jambi, AP- Pasca pemilihan kepala daerah (pilkada) yang sering muncul politisasi jabatan yang bukan jabatan politik sulit dihindari. Hal itu, diprediksikan bakal terjadi pada pejabat di Kota Jambi.
Dengan demikian, pejabat Kota Jambi, yang selama ini mendukung salah satu kandidat, dan kalah dalam pilkada, diprediksikan bakal masuk kotak.
Bagaimana pun setiap calon kepala daerah yang mengajak para pejabat birokrasi masuk dalam tim sukses, tentu menjanjikan posisi jabatan jika menang pilkada. Hal itu sulit dihindari," kata pengamat politik dari Universitas Jambi, Syamsir SH MH, Jumat. Ia menyampaikan hal itu menanggapi pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Sidang Paripurna khusus Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Gedung DPR/MPR RI Senayan Jakarta, Jumat. Pemilihan langsung kepala negara dan kepala daerah mulai tingkat gubernur, bupati dan walikota merupakan sebuah konsekuensi. Mau tidak mau memanfaatkan pejabat di pemerintahan untuk mendukung kemenangan pilkada. "Itu sebuah konsekuensi pemilihan langsung. Dulu pemilihan kepala daerah melalui perwakilan di DPR, tapi apa yang terjadi politik uang muncul luar biasa yang dinikmati anggota dewan," katanya. Pada pemilihan langsung kepala daerah seperti sekarang, meski masih terus muncul politik uang kepada masyarakat, namun batas toleransi. Politik uang pada pilkada tersebut, karena pendidikan politik masyarakat di Indonesia masih rendah. Ia menjelaskan, untuk menghindari itu perlu revisi UU pilkada dengan tidak membuka celah bagi birokrasi bermain politik dan menerapkan supremasi hukum menindak bagi yang melanggar ketentuan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraan itu antara lain menyebut, pasca pilkada dikhawatirkan ada politisasi pada jabatan-jabatan yang bukan jabatan politik. "Mari kita jalankan bersama etika politik yang bisa membedakan mana pos politik dan mana pos administrasi pemerintahan yang harus non partisan, bebas dari intervensi politik. Saya setuju, mari jalankan bersama," ujar presiden
Jambi, AP- Pasca pemilihan kepala daerah (pilkada) yang sering muncul politisasi jabatan yang bukan jabatan politik sulit dihindari. Hal itu, diprediksikan bakal terjadi pada pejabat di Kota Jambi.
Dengan demikian, pejabat Kota Jambi, yang selama ini mendukung salah satu kandidat, dan kalah dalam pilkada, diprediksikan bakal masuk kotak.
Bagaimana pun setiap calon kepala daerah yang mengajak para pejabat birokrasi masuk dalam tim sukses, tentu menjanjikan posisi jabatan jika menang pilkada. Hal itu sulit dihindari," kata pengamat politik dari Universitas Jambi, Syamsir SH MH, Jumat. Ia menyampaikan hal itu menanggapi pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Sidang Paripurna khusus Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Gedung DPR/MPR RI Senayan Jakarta, Jumat. Pemilihan langsung kepala negara dan kepala daerah mulai tingkat gubernur, bupati dan walikota merupakan sebuah konsekuensi. Mau tidak mau memanfaatkan pejabat di pemerintahan untuk mendukung kemenangan pilkada. "Itu sebuah konsekuensi pemilihan langsung. Dulu pemilihan kepala daerah melalui perwakilan di DPR, tapi apa yang terjadi politik uang muncul luar biasa yang dinikmati anggota dewan," katanya. Pada pemilihan langsung kepala daerah seperti sekarang, meski masih terus muncul politik uang kepada masyarakat, namun batas toleransi. Politik uang pada pilkada tersebut, karena pendidikan politik masyarakat di Indonesia masih rendah. Ia menjelaskan, untuk menghindari itu perlu revisi UU pilkada dengan tidak membuka celah bagi birokrasi bermain politik dan menerapkan supremasi hukum menindak bagi yang melanggar ketentuan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraan itu antara lain menyebut, pasca pilkada dikhawatirkan ada politisasi pada jabatan-jabatan yang bukan jabatan politik. "Mari kita jalankan bersama etika politik yang bisa membedakan mana pos politik dan mana pos administrasi pemerintahan yang harus non partisan, bebas dari intervensi politik. Saya setuju, mari jalankan bersama," ujar presiden

Tidak ada komentar:
Posting Komentar